ShareThis

Minggu, 04 Oktober 2009

Asal Usul Nama Indonesia

0 komentar
Berikut ini adalah sejarah asal kata nama Indonesia. Bila kita belajar sejarah hanya sebatas hafalan dan nilai bagus saja, maka tidak akan ada gunanya, hanya nyempit-nyempitin ruang di dalam pikiran kita saja. Tetapi bila kita ditanamkan rasa cinta kepada tanah air, maka sejarah akan mempengaruhi seluruh karya kita. Ini yang tidak dilakukan oleh sistem pendidikan kita. Seperti kalau kita jatuh cinta pada seseorang, pasti akan setengah mati mengetahui sejarah dia dan asal usulnya. Bila belajar sejarah seperti itu, tentunya akan sangat mengasyikkan. Berkarya bukan lagi dengan pikiran, tetapi dengan rasa. Karena rasa menciptakan keunikan dan kreatif.

Mudah-mudahan artikel berikut ini dapat membuka wawasan kita tentang Indonesia dan kemudian dapat terpancing untuk lebih lanjut mencari tahu sendiri. Sehingga seluruh kerja dan karya kita tidak lagi hanya meniru, tetapi merupakan suatu persembahan kreatif kepada diri sendiri, negara dan masyarakat dunia. -zee

Asal Usul Nama Indonesia, Oleh IRFAN ANSHORY

PADA zaman purba, kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.

Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah benzoe, berasal dari bahasa Arab luban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “Jawa" oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. "Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi (Sumatra, Sulawesi, Sunda, semuanya Jawa)" kata seorang pedagang di Pasar Seng, Mekah. Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia. Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang itu beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India, dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya adalah "Hindia".

Semenanjung Asia Selatan mereka sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia Tenggara dinamai "Hindia Belakang". Sedangkan tanah air kita memperoleh nama "Kepulauan Hindia" (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau "Hindia Timur" (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah "Kepulauan Melayu" (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais).

Ketika tanah air kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur). Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga "Kepulauan Hindia" (bahasa Latin insula berarti pulau). Tetapi rupanya nama Insulinde ini ku rang populer. Bagi orang Bandung, Insulinde mungkin cuma dikenal sebagai nama toko buku yang pernah ada di Jalan Otista.

Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950),
yang kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik Multatuli), memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata "India". Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.

Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Kita tentu pernah mendengar Sumpah Palapa dari Gajah Mada, "Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa" (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat). Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu "nusa di antara dua benua dan dua samudra", sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.

Sampai hari ini istilah nusantara tetap kita pakai untuk menyebutkan wilayah tanah air kita dari Sabang sampai Merauke. Tetapi nama resmi bangsa dan negara kita adalah Indonesia. Kini akan kita telusuri dari mana gerangan nama yang sukar bagi lidah Melayu ini muncul.

Nama Indonesia

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia at au Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis: … the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.

Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.

D alam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah "Indian Archipelago" terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan: Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the ! Indian Archipelago. Ketika mengusulkan nama "Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!

Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia" dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalamEncyclopedie van Nederlandsch-Indie tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah "Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan.

Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.

Makna politis

Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama "Indonesia" akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan! Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.

Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, "Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut "Hindia Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya."

Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula mula menggunakan nama "Indonesia". Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; DPR zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama "Indonesia" diresmikan sebagai pengganti nama "Nederlandsch-Indie". Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah.

Maka kehendak Allah pun berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia Belanda" untuk selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, lahirlah Republik Indonesia.

source: bendemataram.blogsome.com

WHAT IS TOK PISIN?

0 komentar
Tok Pisin (pronounced /tɔːk pɪzɪn/ in English, locally pronounced [tokpisin]) is a creole spoken throughout Papua New Guinea; in parts of Western, Gulf, Central, Oro Province and Milne Bay Provinces the use of Tok Pisin has a shorter history, and is less universal, especially among older people. It is an official language of Papua New Guinea and the most widely used language in that country. Pidgin spoken in Papua New Guinea, hence its identification in some earlier works as New Guinea Pidgin. It is a form of Melanesian Pidgin English that was developed in the early 1800's as a result of increased travel and economic activity between the Melanesians and Europeans. It was also once called Neo-Melanesian, apparently according to the hypothesis that all English-based Melanesian pidgins developed from the same proto-pidgin. It is one of the three official languages of Papua New Guinea, along with English and Hiri Motu. Tok Pisin (literally, “talk pidgin”) is one of the Pacific pidgins that emerged during the second half of the 19th century on copra and sugarcane plantations to which labour was imported from Melanesia, Malaysia, and China. The extensive multilingualism that resulted called for a lingua franca. People who had traveled to Papua New Guinea from plantations in Samoa and Queensland, Austl., resorted to the pidgin that had developed there, as apparently did those from coastal China.
Between 5 and 6 million people use Tok Pisin to some degree, although by no means all of these speak it well. Between 1 and 2 million are exposed to it as a first language, in particular the children of parents or grandparents originally speaking different vernaculars (say, a mother from Madang and a father from Rabaul). Urban families in particular, and those of police and defence force members, often communicate between themselves in Tok Pisin, either never gaining fluency in a vernacular ("tok ples"), or learning a vernacular as a second (or third) language, after Tok Pisin (and possibly English). Perhaps 1 million people now use Tok Pisin as a primary language.
Tok Pisin is also—perhaps more commonly in English—called New Guinea Pidgin and, largely in academic contexts, Melanesian Pidgin English or Neo-Melanesian. Given that Papua New Guinean anglophones almost invariably refer to Tok Pisin as Pidgin when speaking English (and note that the published court reports of Papua New Guinea refer to it as "Pidgin": see for example Schubert v The State [1979] PNGLR 66) it may be considered something of an affectation to call it Tok Pisin, much like referring to German and French as Deutsch and français in English. However, Tok Pisin is favoured by many professional linguists to avoid spreading the misconception that Tok Pisin is still a pidgin language; although it was originally a pidgin, Tok Pisin is now considered a distinct language in its own right because it is a first language for some people and not merely a lingua franca to facilitate communication with speakers of other languages.
Nearly the same grammatical distinctions are made in other Melanesian pidgins, such as Bislama (Vanuatu). These features constitute some of the clearest evidence that pidgin systems are not necessarily simpler than those of the languages from which they derived most of their vocabularies and that influence from the languages previously spoken by those who developed the systems (substrates) is incontrovertible in these cases. Such substrate influence is evident also in the sound system of Tok Pisin, where English /f/ has been replaced by /p/ and /š/ by /s/, as in pinis ‘finish.’Tok Pisin is considered an expanded pidgin, as complex as a creole, as it is spoken in urban settings as a vernacular rather than as an occasional lingua franca. The nature and theoretical foundation of the distinction between an expanded pidgin and a creol is an issue of current debate among linguists.

Source:
http://www.britannica.com/EBchecked/topic/598181/Tok-Pisin
http://www.answers.com/topic/tok-pisin

BAHASA INDONESIA BUKANLAH PEMBENTUKAN DARI BAHASA PIJIN DAN KREOL

0 komentar
A. PENDAHULUAN
Bahasa Indonesia bukan merupakan bahasa Indonesia asli. Bahasa Indonesia bisa disebut dengan‘bahasa kutipan’, karena bahasa Indonesia mengadopsi dan mengutip dari bahasa-bahasa lain, baik dari bahasa luar negeri maupun bahasa daerah sendiri, dan merubahnya menjadi sebuah bahasa yang baru yang ada sampai sekarang. Bahasa Indonesia tercipta karena adanya hubungan antar bangsa dan bahasa, dan bekas negara jajahan. Bahasa Indonesia sering digolongkan kedalam istilah bahasa pijin atau kreol. Kerana belum adanya kejelasan penggolongan tentang bahasa Indonesia apakah termasuk salah satunya atau bahkan bukan merupakan kedua-duanya. Banyak para ahli yang telah menghasilkan pemikiran-pemikiran cemerlang terkait dengan konsep bahasa pijin dan kreol. Hal tersebut didasarkan pada fenomena alamiah manusia yang memiliki hasrat untuk mengembangkan diri. Aspek-aspek yang dikembangkan oleh manusia bisa bermacam-macam, baik dalam aspek kepercayaan, ekonomi, budaya, dan lain sebagainya. Proses-proses pengembangan diri tersebut tentu memiliki imbas; imbas positif dan negatif dalam kehidupan manusia itu sendiri.
Aspek kehidupan manusia yang paling rentan terhadap perubahan adalah budaya, namun terkadang perubahan dan perkembangannya terjadi tanpa sadar. Salah satu contoh konkrit perkembangan budaya yang berjalan secara alami adalah bahasa. Sebagaimana pada mulanya hanya ada satu bahasa induk, lalu dalam prosesnya, bahasa tersebut berkembang menjadi ribuan bahkan jutaan. Perkembangan bahasa tersebut merupakan hasil dari pertemuan, percampuran serta kontak yang dilakukan satu komunitas masyarakat dengan komunitas masyarakat lainnya.

B. PEMBAHASAN
Menurut Wardhaugh (1986), bahwa pijin dan kreol muncul atas dasar masyarakat yang berbeda bahasa sehingga harus menemukan sebuah sistem komunikasi. Berikut pembahasan mengenai pijin, kreol dan bahasa Indonesia.
1. Pijin
Pijin adalah bahasa yang belum mempunyai penutur asli (Holmes, 1992). Atau dengan kata lain pijin adalah sebuah bentuk bahasa kontak yang digunakan oleh orang-orang dengan latar belakang bahasa yang berbeda-beda. Sebuah pijin biasanya memiliki tatabahasa yang sangat sederhana dengan kosakata dari bahasa yang berbeda-beda (http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Pidgin). Bahasa pijin muncul dari perdagangan ataupun sebagai alat komunikasi para pekerja (Todd, 1974). Bahasa pijin muncul sebagai alat komunikasi sosial dalam hubungan ynag singkat (Cahyono, 1995:404). Holmes (1992) menggolongkan karakteristik pijin menjadi 3 yaitu:
1. Dipakai di ruang lingkup dan fungsi yang terbatas.
2. Struktur yang sederhana.
3. Pada umumnya sebagai golongan rendah dan cenderung memiliki sifat yang negatif.
Todd (1974) menggambarkan proses pijinisasi dalam beberapa fase, yaitu; Fase pertama : Terjadinya kontak bahasa antar bahasa pendatang dengan bahasa lokal. Dalam kontak bahasa, masyarakat melakukan proses penyederhanaan tata bahasa, kosakata, bahkan cara pengucapan agar lebih mudah dimengerti oleh sesama masyarakat multilingual tersebut. Kontak bahasa tersebut diiringi dengan gestures atau komunikasi non fisik (bahasa tubuh, mimik muka, dll) untuk mengkomunikasikan kebutuhan, istilah-istilah perdagangan, dll. Fase kedua : Bahasa yang telah di ’modifikasi’ atau disederhanakan tersebut digunakan secara reguler selama kontak masyarakat multilingual berlangsung. Fase ketiga : Kosakata-kosakata teknis diperluas, biasanya dengan meminjam pada bahasa yang paling dominan. Fase keempat: Penggunaan bahasa pijin secara regular dalam situasi tertentu jika terus dipertahankan hingga memiliki penutur asli, maka berpotensi untuk menjadi bahasa kreol.
2. Kreol
Menurut todd (1974) creol adalah bahasa pijin yang menjadi bahasa ibu dari speech community. Seperti bahasa normal lainya kreol memiliki penutur asli sedangkan pijin tidak (Wardhough, 1986). Kajian umum menunjukkan (khususnya yang dilakukan oleh Derek Bickerton) bahwa bahasa-bahasa kreol yang ada di dunia menunjukkan adalah kesamaan, khususnya dari segi tata bahasa yang mengarah pada teori tata bahasa universal. Bahasa Kreol ini juga dipengaruhi oleh kosakata-kosakata yang dibawa oleh para penuturnya. Bahasa Kreol berkembang karena sebab berikut : Berkumpulnya berbagai orang dari latar belakang yang berbeda, maksudnya: di suatu daerah, terjadi kontak antara penduduk asli dan pendatang yang satu sama lain berbeda bahasa. Dari sini kemudian digunakan sarana komunikasi yang terdiri dari bahasa dominan, namun terpengaruh oleh kosakata-kosakata bawaan dari orang-orang tersebut. Pijin dan kreol memiliki karakteristik yang serupa. Menurut Cahyono (1995) karakteristik itu adalah:
a) Memiliki urutan subyek-predikat-objek yang cukup kuat,
b) Memiliki pronomina yang tidak bervariasi
c) Tidak mengandung infleksi dan sedikit mengandung derivasi,
d) Banyak memakai partikel untuk membuat negative atau menentukan tense,
e) Menggunakan rangkain verba untuk mengubah makna kata utama,
f) Menggunakan pengulangan kata untuk penekanan,
g) Menggunakan konjungsi untuk mengacu ke makna kata untuk,
h) Menggunakan pronominal ketiga jamak untuk menandai frase nomina pluralis, dan
i) Menggunakan partikel pada awal kalimat untuk menandai unsur yang ditekankan.
Pada mulanya bahasa inilah yang disebut Pijin, dengan kosakata yang sangat sederhana. Namun, ketika mengalami proses kreolisasi, tata bahasanya mengalami perkembangan sehingga menjadi bahasa yang stabil dan terpisah dari bahasa induknya. Sebagian besar bahasa Kreol ini berakar dari bahasa-bahasa Indo-Eropa sebagai bahasa dasarnya. Berikut adalah bahasa-bahasa Kreol yang sudah dikenal (http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_kreol) : Kreol Arab (Ki Nubi, Arab Juba, Arab Babalia), Kreol Inggris (BislamaTok Pisin, Krio, Pitcairn, Sranang Tongo, Kreol Miskito, Kreol Rama Cay), Kreol Perancis (Kreol Haiti, Kreol Louisiana, Kreol Mauritius, Seselwa), Kreol Melayu (Betawi, Melayu Ambon, Melayu Manado, Melayu Ternate, Melayu Banda, Melayu Kupang, Melayu, Larantuka), Kreol Spanyol (Chavacano, Palenquero), Kreol Portugis (Papiamento, Macao, Burgher, Kreol Tanjung Verde, Kreol India, São Tomé, Fa d'Ambo, Crioulo, Papia Kristang).

3. Bahasa Indonesia Bukanlah Termasuk Bahasa Pijin dan Kreol
Pada umumnya orang mengetahui bahwa bahasa lndonesia yang sekarang berasal dari bahasa Melayu. Istilah bahasa Melayu sendiri mengacu pada bahasa Melayu Riau, yaitu bahasa Melayu yang diajarkan di sekolah-sekolah sebelum Perang Dunia II berkecamuk. Beberapa bahasa daerah juga memberikan sumbangan kepada bahasa Indonesia, seperti bahasa Jawa, Sunda, dan lain-lain. Bahkan, bahasa Indonesia juga mendapat sumbangan dari bahasa Barat. Penerbitan buku di Leiden dengan judul European Loan Words in Indonesian: A Checklist of Words of European Origin in Bahasa Indonesia and Traditional Malay tahun 1983 mengingatkan tentang sumbangan bahasa-bahasa Barat kepada bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia diresmikan pada kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Bahasa Indonesia merupakan bahasa dinamis yang hingga sekarang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan, maupun penyerapan dari bahasa daerah dan asing. Bahasa Indonesia adalah dialek baku dari bahasa Melayu yang pokoknya dari bahasa Melayu Riau sebagaimana diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam Kongres Bahasa Indonesia I tahun 1939 di Solo, Jawa Tengah, "jang dinamakan 'Bahasa Indonesia' jaitoe bahasa Melajoe jang soenggoehpoen pokoknja berasal dari 'Melajoe Riaoe', akan tetapi jang soedah ditambah, dioebah ataoe dikoerangi menoeroet keperloean zaman dan alam baharoe, hingga bahasa itoe laloe moedah dipakai oleh rakjat di seloeroeh Indonesia; pembaharoean bahasa Melajoe hingga menjadi bahasa Indonesia itoe haroes dilakoekan oleh kaoem ahli jang beralam baharoe, ialah alam kebangsaan Indonesia". atau sebagaimana diungkapkan dalam Kongres Bahasa Indonesia II 1954 di Medan, Sumatra Utara, "...bahwa asal bahasa Indonesia ialah bahasa Melaju. Dasar bahasa Indonesia ialah bahasa Melaju jang disesuaikan dengan pertumbuhannja dalam masjarakat Indonesia". Secara sejarah, bahasa Indonesia merupakan salah satu dialek temporal dari bahasa Melayu yang struktur maupun khazanahnya sebagian besar masih sama atau mirip dengan dialek-dialek temporal terdahulu seperti bahasa Melayu Klasik dan bahasa Melayu Kuno. Secara sosiologis, bolehlah kita katakan bahwa bahasa Indonesia baru dianggap "lahir" atau diterima keberadaannya pada tanggal 28 Oktober 1928. Secara yuridis, baru tanggal 18 Agustus 1945 bahasa Indonesia secara resmi diakui keberadaannya. Bila kita mengikuti pemikiran beberapa sarjana Belanda, terlihat bahwa yang dianggap bahasa Melayu baku ialah bahasa yang banyak dikembangkan oleh guru-guru Melayu, terutama yang bertugas di Balai Pustaka. Profesor A. Teeuw pernah menulis: One can go further and say that it was this very group of Minangkabau school teachers at Balai Pustaka who made a significant contribution to the standardization of Malay which is often called Balai Pustaka Malay; it is the basis from which present-day Bahasa Indonesia is developed. Walaupun Profesor Teeuw tidak menggunakan istilah bahasa Melayu Riau, namun yang dimaksud dengan istilah bahasa Melayu Balai Pustaka itu pada dasarnya adalah bahasa Melayu Riau dalam pengertian kita di atas. Sarjana Belanda lain, Profesor G. W. J. Drewes, yang pernah bertugas di Balai Pustaka juga menekankan pentingnya Balai Pustaka dalam hubungannya dengan pembakuan bahasa. Menurut Drewes, bahasa manuskrip yang dikirimkan oleh Balai Pustaka sering diperbaiki oleh Engku-engku Balai Pustaka dan para pengarang. Pengirim hendaknya tidak merasa tersinggung, bahkan harus berterima kasih atas perbaikan-perbaikan itu (Drewes, 1981: 102–103). Bahasa Indonesia juga memiliki kedudukan yang sangat penting seperti yang tercantum dalam:
 Ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928 dengan bunyi, ”Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
 Undang-Undang Dasar RI 1945 Bab XV (Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan) Pasal 36 menyatakan bahwa ”Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia”.
Dari Kedua hal tersebut, maka kedudukan bahasa Indonesia sebagai:
 Bahasa kebangsaan, kedudukannya berada di atas bahasa-bahasa daerah.
 Bahasa negara (bahasa resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia).

C. KESIMPULAN
Jadi jelaslah jika dibandingkan dengan bahasa pijin, bahasa Indonesia memiliki kedudukan bahasa yang resmi, dan Bahasa Indonesia tidak terjadi dari pengumpulan bahasa-bahasa pijin yang nantinya akan berubah menjadi bahasa kreol. Tapi bahasa Indonesia berasal dari bahasa melayu Riau yang struktur maupun khazanahnya sebagian besar masih sama atau mirip dengan dialek-dialek temporal terdahulu seperti bahasa Melayu Klasik dan bahasa Melayu Kuno yang telah tercipta sebelum perang Dunia II dan telah digunakan dalam bahasa buku-buku balai pustaka serta digunakan dalam pergaulan masyarakat sosial.


DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, Bambang Yudi. 1995. Kristal-Kristal Ilmu Bahasa. Surabaya: Airlangga University Press.
Drewes G. W. J. 1981. Balai Pustaka and its Antecedents in Philips, N., Anwar, K.(EDs.), Papers on Indonesia Languages and Literatures. London: Indonesian Etymological Project.
Godadi, INC. 2001. “Kreol dan Pijin” Diperoleh pada tanggal 11 dan 12 September 2009 dari http://id.wikipedia.org/wiki/kreol/pijin
Holmes, Janet. 1992. An Introduction to Sociolnguistics. London: Longman Group Limited.
Todd, Loreto. 1974. Pidgins and Creols. London: Routledge & Kegan Ltd.
Wardhaugh, Ronals. 1986. An Introduction to Sociolnguistics. New York: Basil Blackwell.

Followers

 

sUBanDoWo Dot BlOgsPot dOt coM. Copyright 2011 All Rights Reserved