ShareThis
Minggu, 04 April 2010
Sintaksis Kalimat Tunggal
Kalimat Tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri dari dua unsur inti dan boleh diperluas dengan satu atau lebih unsur-unsur tambahan, asal unsur-unsur tambahan itu tidak boleh membentuk pola yang baru.
Batasan ini menegaskan sekali lagi kepada kita bahwa semua kalimat inti termasuk dalam pengertian Kalimat Tunggal, sedangkan sebagian dari Kalimat Luas juga termasuk Kalimat Tunggal.
Contoh:
• Adik menangis : adalah kalimat mayor, kalimat tunggal, dan kalimat inti, bukan kalimat luas.
• Menangis adik : adalah kalimat mayor, kalimat tunggal, tetapi bukan kalimat inti, dan bukan kalimat luas.
• Kemarin saya belajar saja di rumah : kalimat mayor, kalimat tunggal, bukan kalimat inti, tetapi kalimat luas.
Sebaliknya kalimat-kalimat tunggal yang diperluas sekian macam hingga unsur-unsur baru itu membentuk satu atau lebih pola kalimat lagi, maka kalimat itu desibut Kalimat Majemuk. Jadi dalam kalimat majemuk akan kita junpai minimal dua pola kalimat dan tiap-tiap pola boleh diperluas lagi dengan satu atau lebih unsur–unsur tambahan.
Kesimpulannya, tunggal dan majemuknya suatu kalimat, haruslah dilihat dari banyaknya pola kalimat yang ada pada sebuah kalimat. Jika hanya ada satu pola kalimat maka itu adalah kalimat tunggal; jika kalimat itu memiliki dua pola kalimat atau lebih, kalimat itu disebut kalimat majemuk.
1. Macam-Macam Kalimat Tunggal
Berdasarkan macamnya kalimat tunggal dapat digolongkan atas:
A. Kalimat Berita
B. Kalimat Tanya
C. Kalimat Perintah
2. Uraian Kalimat Tunggal
Uraian kalimat tidak lain daripada usaha menentukan atau memperinci fungsi-fungsi yang didukung oleh kata atau kelompok kata yang membentuk sebuah kalimat. Untuk itu, di sini akan dibahas mengenai kelompok kata yang disebut gatra (saat ini istilah gatra tidak dipergunakan lagi). Untuk lengkapnya, lihat Hakekat Gatra.
A. Macam-Macam Gatra
Perincian dari pada berjenis-jenis gatra itu dapat diurutkan sebagai berikut:
1. Gatra-gatra Inti
Adalah gatra pangkal, gatra diterangkan, gatra digolongkan (ketiganya saat ini disebut Subjek), gatra perbuatan, gatra menerangkan, gatra menggolongkan (saat ini disebut Predikat)
2. Gatra-gatra Tambahan
Gatra-gatra tambahan ini sifatnya bermacam-macam tergantung dari kata yang dijelaskannya, ada yang menerangkan kata kerja dalam suatu fungsi tertentu, ada yang menerangkan kata benda, ada yang menerangkan kata sifat dalam fungsi-fungsi tertentu, dalam hal ini biasa disebut Keterangan.
A. Keterangan yang Menerangkan Kata Kerja
B. Keterangan yang Menerangkan Kata Benda
C. Keterangan yang Menerangkan Kata Sifat
Source: tata-bahasa.110mb.com
Selasa, 22 Desember 2009
REDUPLIKASI DALAM DIALEK JAKARTE
A. Reduplikasi Dalam Dialek
Reduplikasi dalam dialek
B. Urutan Derivasi {R} + Afiksasi
Proses morfemis yang terjadi dari reduplikasi semata-mata berdasarkan kaidah morfofonemis yang berlaku bagi semua bentuk reduplikasi dan afiksasi, tanpa memperhitungkan adanya tipologi berdasarkan urutan derivasinnya. Dari segi urutan derivasinya, proses reduplikasinya + afiksasi dapat dikelompokkan menjadi dua golongan yaitu: reduplikasi yang terjadi pada morfem akar yang lebih dahulu telah memperoleh afiksasi. Kedua, reduplikasi dan afiksasi secara simultan dikenakan kepada morfem akar. Seperti pada contoh dibawah ini

Proses pertam yang berupa reduplikasi bentuk dasar yang telah berafiks secara tidak langsung dibentuk dari kata makan. Tetapi akar makan lebih dulu mengalami derivasi denagn sufiks {-an} menjadi kata benda makanan yang menurut kaidah morfofonemisnya hanya diulang morfem akarnya saja.
C. Penggolongan Arti Reduplikasi
Arti reduplikasi secara umum dapat digolongkan menjadi dua kelompok: (1) reduplikasi yang membentuk secara leksikal, dan (2) reduplikasi sebagia proses morfemis yang mengubah kelas kata atau kategori bentuk dasar menjadi kelas atau kategori yang lain.
1 redupikasi pembentuk arti leksikal
Dalam reduplikasi ini semata-mata menghasilkan arti leksikal, tanpa mengakibatkan perubahan distribusi sintaksis bentuk dasarnya. Sebagai contoh pada kata marє ’marah’ yang menjadi marє- marє ’sangat marah, seringkali marah’. Arti leksikal kedua bentuk diatas memang berbeda, tetapi distribusi kedua bentuk morfemis itu sama. Reduplikasi dengan arti leksikal merupakan golongan merupakan golongan terbesar proses morfemis ini. Oleh sebab itu, warna arti yang tergolong kedalam arti ini banyak beraneka. Untuk arti leksikal baru yang dihasilkan oleh proses reduplikasi pada contoh diatas mempunyai hubungan semantis dengan bentuk dasarnya. Dalam beberapa contoh lainnya, perubahan arti leksikal demikian jauh dari arti leksikal bentuk dasarnya, sehingga sulit dicari hubungan antara arti bentuk dasar dan arti proses reduplikasinya. Contoh, bentuk dasar kuda ’kuda’, setelah memperoleh reduplikasi menjadi kuda-kuda berarti sejenis sikap dalam permainan silat. Contoh semacam ini identitas leksikal bentuk dasarnya telah telah ditinggalkan; dan reduplikasi menghasilkan kata-kata yang sama sekali baru.
2 Pengubah kategori bentuk dasar
Golongan arti reduplikasi adalah reduplikasi yang menghasilkan kelas kata baru yang berlainan dengan kelas atau kategori bentuk dasarnya. Bentuk dasar berkategori ajektival baє? ’baik’ oleh proses reduplikasi baє?-baє? ’dengan baik’ berubah kelas menjadi kata keterangan atau adverbial. Dan oleh perubahan kategori itu, maka antara bentuk dasar dan bentuk reduplikasinya tidak lagi berdistribusi pararel. Berubahnya kategori selalu berarti pindahnya identitas leksikal. Perubahan arti leksikal pada contoh diatas masih mempunyai hubungan yang semantis. Contoh berikut memperlihatkan pindahnya arti leksikal, disamping pindahnya kategori sedemikina jauh sehingga hubungan semantisnya dengan bentuk yang tidak mengalami reduplikasi. Kata sifat ramє ’ramai’ sebagai adverbial dalam bentuk ramє- ramє menyatakan arti bersama-sama.
3 Bentuk reduplikasi lain
Selain kedua golongan diatas, dalam dialek Jakarta masih cukup banyak contoh bentuk-bentuk reduplikasi yang tidak jelas kategori dan arti bentuk dasarnya. Reduplikasi seperti guna-guna ’guna-guna’, pura-pura ’pura pura’, bale-bale yang berarti ’tempat duduk’, gara-gara ’sebab dalam arti jelek’ tidak jelas arti maupun kategori bentuk dasarnya. Dalam penjelasan buku karangan Muhajir, maka untuk kelas yang tidak jelas kategorinya digolongkan kedalam proses morfemis yang mengambil bentuk dasar prakategorial yang memindahkan bentu dasar ke dalam kategori tertentu.
D. Reduplikasi + Afiks
Ada beberapa reduplikasi yang diikuti oleh afiksasi dalam dialek Jakarta, yaitu: reduplikasi ({R} + {bə(r)-} + Morfem akar sebagai contoh bəlari-lari ’berlari-lari’, bəlagaי-lagaי ‘bersikap sombong’. {R} + {bə (r)-[ ]-an}+ morfem akar, dalam hal ini sebagai contohnya bəpacar-pacaran ’bercumbu-cumbuan', bədəkət-dəkətan. {R} + {mə (N)-} + Morfem akar, dalam dialek ini untuk sebagian besarnya merupakan alternan prefik {N-} dan sebagian lainnya merupakan prefik yang tidak beralternasi dengan prefik tersebut. Dalam proses morfemis {mə(N)-} + Reduplikasi, prefik {Mə(N)-} tidak dapat diganti dengan (N-). Proses morfemis reduplikasi + {mə(N)-} terjadi dengan mengulang bentuk dasar dan mengimbuhkan prefik {mə(N) pada konstituen kedua. Bentuk-bentuk dasar bantu, tarik, dan tulunŋ. Misalnya menjadi bantu-məmbantu, ’saling membantu’, tarik-mənarik ’saling menarik’ dan tuluŋ-mənuluŋ ’saling menolong’. Ada reduplikasi dengan bentuk arti dasar yang menyatakan sesuatu perbuatan yang dilakukan dengan tiba-tiba tau tidak sengaja terus menerus tau berulang kali. Bentuk təjato-jato berarti ’terjatuh berulang kali’, tərtidur-tidur ’tertidur-tidur’, tərgilє-gilє ’terus menerus tergila-gila’. Bentuk {R} + {tə(r)-} membentuk distribusi kelas pararel dengan kelas adverbial: təgəsa-gəsa ’tergesa-gesa’, təloŋoŋ-loŋoŋ ‘terheran-heran’. Untuk reduplikasi {sə} dapat digolongkan menjadi dua yaitu: kelompok yang dibentuk secara beruntun dan kelompok yang dibentuk secara simultan. Bentuk-bentuk seperti səgəde-gəde (jaguŋ) ’besar-besar seperti jagung’ atau səmau-mau (lu) ’semata-mata menurut kemauanmu’, masing-masing dibentuk dari bentuk dasar səgəde (jaguŋ) dan səmau (lu). Tetapi bentuk səola-ola ’seolah-olah’ atau ’səakan-akan ’seakan-akan’ dibentuk langsung dari morfem ola dan akan. Hal ini terbukti karena dalam dialek ini tidak pernah ada bentuk səakan, maupun səola.
Selasa, 27 Oktober 2009
Malam Nusantara's Days 27 Oktober 2009
acara yang digelar pada puku 19.00 wib dibuka oleh bapak rektor UGM dan sambutan dekan FIB.
setelah itu dilnjutkan dengan pertunjukkan daerah, dimulai dari Bali 'pendet', trus ada dari UNPAD 'angklung', trus ada kesenian dari Kal-Sel. dan yang paling heboh adalah kesenian dari Banyumas yang dibawakan oleh sanggar dari Yogya,,wah sampe2 penontonnya ikut goyang semua. terakhir penutupan kembali lagi penonton bergoyang lagi dengan diiringi musik angklung dari UNPAD. Wah sampe2 ga inget waktu, tau2 dah pukul 12.00...
kalo gitu saatnya untuk pulanggggg...
.




